Seorang gadis, hitam manis, duduk di sebuah bar. “Permisi, boleh saya mentraktir anda minum?” tawar seorang laki2 muda menghampirinya.
“Apa? Ke hotel?” teriak si gadis. “Bukan, bukan. Jangan salah paham. Saya hanya menawari minuman……” “Kau meminta aku menemanimu ke hotel?” teriak si gadis lebih keras. Merasa ditolak, dengan perasaan malu, laki2 muda itu beringsut dan duduk di sudut ruangan. Semua orang di bar menatap laki2 itu dengan sinis dan mencibir. Beberapa menit kemudian, si gadis menghampiri si laki2 muda itu. “Maafkan saya. Saya sedang menyamar. Sebenarnya, saya adalah seorang mahasiswi psikologi yang sedang mempelajari tingkah laku manusia di situasi yang tidak dikehendakinya.” Si laki2 menatap dengan tampang dingin. Kemudian berteriak dengan amat kerasnya, “Berapa? Dua ratus ribu???!!!”
“Apa? Ke hotel?” teriak si gadis. “Bukan, bukan. Jangan salah paham. Saya hanya menawari minuman……” “Kau meminta aku menemanimu ke hotel?” teriak si gadis lebih keras. Merasa ditolak, dengan perasaan malu, laki2 muda itu beringsut dan duduk di sudut ruangan. Semua orang di bar menatap laki2 itu dengan sinis dan mencibir. Beberapa menit kemudian, si gadis menghampiri si laki2 muda itu. “Maafkan saya. Saya sedang menyamar. Sebenarnya, saya adalah seorang mahasiswi psikologi yang sedang mempelajari tingkah laku manusia di situasi yang tidak dikehendakinya.” Si laki2 menatap dengan tampang dingin. Kemudian berteriak dengan amat kerasnya, “Berapa? Dua ratus ribu???!!!”
Udin ditugaskan ke Bosnia, bergabung dengan pasukan PBB yang menjaga perdamaian di sana. Posnya terdapat di sebuah daerah terpencil, di kaki pegunungan yang sunyi.Selama sebulan Udin mencoba menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan seks-nya. Tapi akhirnya dia tidak tahan. Dia datang ke koleganya, seorang perwira Arab, dan bertanya: “Bagaimana caranya ‘gituan’ di daerah terpencil ini?” Jawab sang perwira Arab: “Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu.”Udin ingat Pancasila dan Sapta Marga, maka ia bertekad tidak mau melakukan perbuatan nista itu. Tapi pada bulan ke dua, ia sudah tidak tahan lagi. Dia datang ke rekannya yang lain, seorang perwira India dan menanyakan hal yang sama. Dia juga mendapat jawaban yang sama: “Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu.”Udin diam, tapi tetap ingat Pancasila dan Sapta Marga. Sampai akhirnya di bulan kelima, dia sudah benar-benar tidak tahan lagi.Dia mendatangi si perwira Arab dan berbisik malu-malu, bahwa dia mau ‘gituan’.Si Arab mengangguk simpatik: “Silahkan pakai kuda itu, ini memang giliranmu.”Nah, Udin pun dengan berjingkat-jingkat mendatangi si kuda, dan melampiaskan hasratnya di tubuh hewan itu. Lalu dia kembali ke si perwira Arab sambil senyum kecil: “Wah, thank you, saya sudah pakai kudanya.”“Ah, tak perlu berterima kasih. Semua orang di sini kalau mau datang ke bordil di bukit itu memang biasanya naik kuda.